Luruskan Shaf dan Rapatkan

Di antara syari’at yang diajarkan rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  kepada umatnya adalah meluruskan dan merapatkan shaf dalam shalat berjamaah. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, artinya :“Luruskan shafmu, karena sesungguhnya meluruskan shaf itu merupakan bagian dari kesempurnaan shalat”. (Muttafaq ‘Alaih).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga bersabda, artinya : “Apakah kalian tidak berbaris sebagaimana berbarisnya para malaikat di sisi Rabb mereka ?” Maka kami (para sahabat) berkata: “Wahai Rasulullah , bagaimana berbarisnya malaikat di sisi Rabb mereka ?” Beliau menjawab : “Mereka menyempurnakan barisan-barisan (shaf-shaf), yang pertama kemudian (shaf) yang berikutnya, dan mereka merapatkan barisan” (HR. Muslim, An Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah).

Berkata Ibnu Hazm rahimahullahu : hadits ini dan hadits-hadits lain yang semisal merupakan dalil wajibnya merapikan shaf sebelum shalat dimulai. Karena menyempurnakan shalat itu wajib, sedang kerapihan shaf merupakan bagian dari kesempurnaan shalat, maka merapikan shaf merupakan kewajiban. Juga lafazamr (perintah) dalam hadits di atas menunjukkan wajib.

Teladan dari Nabi dan Para Shahabat

Umar bin Khaththab radhiallahu anhu pernah memukul Abu Utsman An-Nahdi karena ke luar dari barisan shalatnya. Juga Bilal  radhiallahu anhu pernah melakukan hal yang sama, seperti yang dikatakan oleh Suwaid bin Ghaflah bahwa Umar dan Bilal radhiallahu anhuma pernah memukul pundak kami dan mereka tidak akan memukul orang lain, kecuali karena meninggalkan sesuatu yang diwajibkan (Fathul Bari juz 2 hal 447). Itulah sebabnya, ketika Anas  radhiallahu anhu tiba di Madinah dan ditanya apa yang paling anda ingkari, beliau berkata, “Saya tidak pernah mengingkari sesuatu melebihi larangan saya kepada orang yang tidak merapikan shafnya.” (HR. Bukhari).

Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebelum memulai shalat, beliau berjalan merapikan shaf dan memegang dada dan pundak para sahabat dan bersabda,artinya : “Wahai sekalian hamba Allah! Hedaklah kalian meluruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak), maka sungguh Allah akan membalikkan wajah-wajah kalian.” (HR. Al-Jama’ah, kecuali Bukhari).

Di dalam riwayat Abu Hurairah radhiallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah biasa masuk memeriksa ke shaf-shaf mulai dari satu ujung ke ujung yang lain, memegang dada dan pundak kami seraya bersabda,artinya : “Janganlah kalian berbeda (tidak lurus shafnya), karena akan menjadikan hati kalian berselisih” (HR. Muslim).

Imam Al-Qurthubi rahimahullahu berkata, “Yang dimaksud dengan perselisihan hati pada hadits di atas adalah bahwa ketika seorang tidak lurus di dalam shafnya dengan berdiri ke depan atau ke belakang, menunjukkan kesombongan di dalam hatinya yang tidak mau diatur. Yang demikian itu, akan merusak hati dan bisa menimbulkan perpecahan (Fathul Bari juz 2 hal 443).

SUSUNAN SHAF SHOLAT

Berdiri di dalam shaf bukan hanya sekedar berbaris lurus, tetapi juga dengan merapatkan kaki dan pundak antara satu dengan yang lainnya seperti yang dilakukan oleh para shahabat. Diriwayatkan oleh Ibnu Umar Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, artinya : “Rapatkankan shaf, dekatkan (jarak) antara shaf-shaf itu dan ratakan pundak-pundak.” (HR. Abu Daud dan An-Nasai, dishahihkan oleh Ibnu Hibban). (Lihat Gambar 1)

gambar 1

Hadits dari Nu’man Bin Basyir radhiallahu anhu, beliau berkata : “Dan aku melihat semua laki – laki yang shalat saling mendekatkan antara pundak dengan pundak lainnya dan mata kaki dengan mata kaki lainnya “ (HR. Bukhari).

Posisi Makmum di Dalam Shalat

Apabila imam shalat berjamaah hanya dengan seorang makmum, maka dia (makmum) disunnahkan berdiri di sebelah kanan imam (sejajar dengannya), sebagaimana yang diceritakan oleh Ibnu Abbas radhiallahu anhu bahwa beliau pernah shalat berjamaah bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pada suatu malam dan berdiri di sebelah kirinya. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memegang kepala Ibnu Abbas radhiallahu anhu dari belakang lalu memindahkan di sebelah kanannya (Muttafaq ‘Alaih). Dan hal ini juga berlaku pada wanita. (Lihat Gambar 2a dan 2b).

gambar 2a

gambar 2b

Apabila makmum terdiri dari dua orang atau lebih, maka mereka berada di belakang imam, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Jabir radhiallahu anhu, beliau berkata : Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  berdiri shalat maghrib, lalu aku datang dan berdiri di samping kirinya. Maka beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menarik diriku dan dijadikan di samping kanannya. Tiba – tiba sahabatku datang (untuk shalat), lalu kami berbaris di belakang beliau dan shalat bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (HR. Ahmad). (Lihat Gambar 3).

gambar 3

Lain halnya pada wanita. Apabila makmum makmum terdiri dari dua orang atau lebih, maka mereka berada masing – masing berada di samping kiri dan kanan sejajar dengan imam. Atau menempatkan imam wanita di tengah shaf.

Sebagaimana hadits bahwa ‘Aisyah radhiallahu ‘anha shalat menjadi imam bagi kaum wanita dan beliau berdiri di tengah shaff (HR. Baihaqi, Hakim, Daruquthni dan Ibnu abi Syaibah). (Lihat Gambar 4).

gambar 4

Apabila shalat berjamaah terdiri dari satu imam laki – laki dan satu makmum wanita, maka wanita berdiri di belakang imam. Hadits dari Anas bin Malik radhiallahu anhu: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam shalat maka saya dan seorang anak yatim berdiri di belakangnya dan Ummu Sulaim berdiri di belakang kami” (Muttafaq ‘Alaih). (Lihat Gambar 5).

gambar 5

Hadits di atas juga menjelaskan bahwa makmum wanita mengambil posisi di belakang laki-laki, sekali pun harus bershaf sendirian. Dan dia tidak boleh bershaf di samping laki-laki, apalagi di depannya. Sebaik-baik shaf laki-laki adalah yang pertama dan seburuk-buruknya adalah yang terakhir. Sebaliknya bagi wanita, sebaik-baik shaf baginya adalah yang terakhir dan yang paling buruk adalah yang pertama. (HR. Muslim dari Abu Hurairah). Menyempurnakan shaf terdepan adalah yang dilakukan oleh para malaikat, ketika berbaris di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Apabila shalat berjamaah terdiri dari, satu imam, satu makmum dan satu jamaah wanita, maka dalam hal ini, kita memadukan antara riwayat hadits dari sahabat Ibnu Abbas dan Anas bin Malik di atas (lihat gambar). Yakni makmum berdiri sejajar di samping kanan imam dan makmum wanita berada di belakang mereka.(Lihat Gambar 6).

gambar 6

Apabila dalam shalat berjamaah terdapat makmum anak laki- laki, maka shaf anak laki – laki ditempatkan di belakang shaf laki – laki dewasa. Sebagaimana hadits dari Abu Malik al-Asy’ari Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  menjadikan shaf laki – laki di depan anak – anak, (dan) anak – anak di belakang mereka sedangkan kaum wanita di belakang anak- anak (HR. Ahmad). (Lihat Gambar 7).

gambar 7

Markaz al Fatwa menyebutkan bahwa yang paling utama adalah menempatkan anak-anak di belakang shaff laki-laki dewasa. Akan tetapi jika dikhawatirkan anak-anak itu akan bisa mengganggu orang-orang yang shalat atau ada shaff yang kurang penuh maka bariskanlah anak-anak itu bersama laki-laki dewasa. Dan ini tidaklah termasuk kedalam memutus shaff apabila usia anak-anak itu termasuk kedalam usia tamyiz dan dalam keadaan suci (berwudhu) dan jauh dari kemungkinan bahwa anak-anak itu tidak dalam keadaan bersuci. (Markaz al-Fatwa, fatwa No. 35652).

Adapun usia tamyiz seorang anak menurut Syaikh Ibnu Utsaimin adalah umumnya 7 tahun akan tetapi terkadang seorang anak sudah mencapai tamyiz di usia 5 tahun. Mahmud bin ar Rabi’ berkata.”Aku teringat bahwa wajahku pernah dimuntahi oleh Rasulullah  satu kali sementara (saat itu) aku masih berusia 5 tahun.” Ada sebagian anak-anak kecil yang sudah pandai dan mampu membedakan (tamyiz) di usia yang masih kecil sementara ada sebagian lainnya yang sudah baligh di usia 18 tahun namun dirinya belum tamyiz.” (Liqo’ al Bab al Maftuh juz 13 hal 37).

Larangan Membuat Shaf Sendirian

Seorang makmum dilarang membuat shaf sendirian, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Wabishah bin Mi’bad, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melihat seseorang shalat di belakang shaf sendirian, maka beliau memerintahkan untuk mengulang shalatnya (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban).

Akan tetapi, menurut Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin rahimahullah, jika seseorang menjumpai shaf yang sudah penuh, sementara ia sendirian dan tidak ada yang ditunggu, maka boleh baginya shalat sendiri di belakang shaf itu. Karena apabila ada larangan berhadapan dengan kewajiban (jamaah bersama imam), maka di dahulukan yang wajib.

Mengisi Kekosongan

Untuk menjaga keutuhan shaf boleh saja seorang maju atau bergeser ketika mendapatkan ada shaf yang terputus. Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang diriwayatkan oleh Abu Juhaifah, beliau bersabda, artinya : “Barangsiapa yang memenuhi celah yang ada pada shaf maka Allah akan mengampuni dosanya.”(HR. Bazzar dengan sanad hasan).

Wallahu A’lam.

sumber klik di sini

sumber gambar : http://images.search.conduit.com/ImagePreview/?q=shaf%20lurus&ctid=ct3080215&searchsource=49&start=0&pos=0

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 247 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: