Sholat Berjamaah Yuk!!!

Fungsi & fadhilah shalat berjama’ah yang dijelaskan oleh Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wasallam, merupakan suatu jaminan yang pasti akan diperoleh oleh pelakunya selama dia melaksanakannya sesuai dengan tuntunan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, semoga fadhilah-fadhilah tersebut memantapkan keyakinan dan menguatkan semangat kita untuk selalu melaksanakannya secara maksimal, namun terkadang kita masih mendapatkan kaum muslimin yang masih bermalas-malasan untuk melaksanakan shalat berja-ma’ah hal ini dikarenakan ketidaktahuan mereka tentang hukum shalat berjama’ah itu sendiri.

Hukum Shalat Berjama’ah

Para fuqaha (ahli fiqh) antara lain dari kalangan Madzhab Maliki, Syafi’i, dan sebagian Madzhab Hanafiyah berpandangan bahwa hukum shalat berjama’ah adalah sunnah muakkadah ada pula sebagian fuqaha mengatakan hukumnya wajib kifayah begitulah pendapat kedua dari mazhab Syafi’i sedangkan fuqaha lainnya lagi mengatakan wajib ‘ain, demikianlah pandangan Atha, Al-Auza’i, Abu Tsaur dan umumnya tokoh madzhab Hambali dan  Zhohiri.  Pendapat  ketiga  inilah yang paling kuat, berdasarkan banyaknya riwa-yat yang shahih tentang kewajiban shalat berjama’ah bagi setiap muslim yang terlepas dari udzur. Adapun dalil-dalinya adalah :

Dalil Dari Al-Qur’an

1. Perintah Allah subhaanahu wata’alaa untuk melakukan ruku’ bersama orang-orang yang ruku’, Firman Allahsubhaanahu wata’alaa :

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku`lah beserta orang-orang yang ruku” (TQS. Al Baqarah :43)

Konteks ayat “Ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’, mengisyaratkan wajib-nya shalat berjama’ah sebab jika dikatakan ayat diatas hanya menunjukkan perintah shalat maka lafadz “Wa aqimush shalah” (Dirikanlah shalat) itu sudah cukup. Berkata  Al Hafizh Ibnul Jauzi  rahimahullahu ketika menafsirkan ayat ini : “Yaitu shalatlah bersama-sama orang yang shalat“(Lihat Zaadul Masiir 1:75)

Ibnu Katsir rahimahullahu mengatakan “Dan banyak para ulama yang menjadikan ayat ini sebagai dalil diwajibkannya shalat berjama’ah”.(Lihat Tafsir Ibnu Katsir 1:85)

Jika dikatakan bahwa perintah “Ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’, juga telah dikatakan kepada Maryam padahal sebagaimana yang diketahui bahwa wanita tidak wajib shalat berjama’ah. Allah subhaanahu wata’alaaberfirman:

“Hai Maryam, ta`atlah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku`lah bersama orang-orang yang ruku”. (TQS. Ali Imran : 43)

Maka kita katakan bahwa ayat ini tidak mewajibkan atas wanita umumnya akan tetapi perintah tersebut dikhususkan untuk Maryam, karena ibu beliau pernah bernadzar untuk menjadikannya hamba yang selalu tunduk dan patuh kepada Allah subhaanahu wata’alaa  dan untuk beribadah kepada-Nya serta mengabdi dan memakmurkan masjid, sedangkan wanita selain beliau lebih utama melaksanakan shalat di rumah mereka masing-masing, hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wasallam :

“Shalatnya seorang wanita di rumahnya lebih baik daripada shalatnya di masjid” (HR. Hakim)

2. Perintah untuk melaksanakan shalat berjama’ah dalam keadaan takut.

Perintah untuk melaksanakan shalat berjama’ah bukan  hanya diperintahkan ketika dalam keadaan tenang/ damai bahkan hal ini juga diperintahkan ketika dalam keadaan takut, hal ini berdasarkan firman Allah subhaanahu wata’alaa   yang artinya:

“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (shahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan seraka`at), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat, lalu shalatlah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata”. (TQS. Annisa : 102)

Telah disebutkan di atas bahwa “..dan hendaklah datang segolongan kedua yang belum shalat, lalu bershalatlah bersamamu…”. Ini adalah dalil bahwa shalat berjama’ah adalah fardhu ‘ain, bukan fardu kifayah, ataupun sunnah. Jika hukumnya fardhu kifayah, pastilah gugur kewajiban berjama’ah bagi kelompok kedua karena telah ditunaikan oleh kelompok pertama. Dan jika hukumnya adalah sunnah, pastilah alasan yang paling utama untuk meninggalkan shalat berjama’ah adalah karena takut.

Kalau saja Allah subhaanahu wata’alaa  tetap mewajibkan untuk shalat berjama’ah dalam keadaan takut/ perang maka tentunya dalam situasi tenang dan aman hukumnya akan lebih wajib.

3. Firman Allah subhaanahu wata’alaa  :

“Pada hari betis disingkapkan dan mereka di-panggil untuk bersujud; maka mereka tidak  kuasa, (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera.” (TQS.Al-Qalam : 42-43)

Berkata Said bin Musayyib rahimahullahu  ketika menafsirkan ayat di atas : “Mereka adalah orang-orang yang mendengarkan hayya ‘alashshalah hayya ‘alal falah namun mereka tidak memenuhi panggilan tersebut”

Berkata Ka’ab bin Al-Ahbar rahimahullahu berkata “Demi Allah tidaklah ayat ini diturunkan kecuali sebagai peringatan dan ancaman bagi orang-orang yang meninggalkan shalat berjama’ah”

Dalil Dari As-Sunnah

1. Perintah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam untuk melak-sanakan shalat berjama’ah, Rasulullahshalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“…Apabila telah datang waktu shalat maka azanlah untuk kalian salah seorang dari kalian dan hendaklah menjadi imam orang yang paling tua diantara kalian”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan hal yang memperkuat wajibnya melaksanakan shalat secara berjama’ah adalah perintah Rasulullahshalallahu ‘alaihi wasallam  untuk melaksanakannya bagi musafir walaupun hanya dua orang saja. Rasulullahshalallahu ‘alaihi wasallam  bersabda :

“Apabila kalian berdua keluar (musafir) maka adzanlah kemudian iqamahlah lalu hendaklah menjadi imam diantara kalian yang tertua”  (HR. Bukhari)

2. Larangan keluar dari masjid setelah dikumandangkan adzan

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Apabila kalian berada di dalam masjid kemu-dian dikumandangkan adzan untuk shalat maka janganlah salah seorang dari kalian keluar (dari masjid) hingga ia melaksanakan shalat” (HSR. Ahmad)

Oleh sebab itu Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu menghukumi orang yang keluar dari masjid setelah adzan sebagai orang yang telah bermaksiat terhadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Diriwayatkan oleh imam Muslim dari Abu Sya’tsa’ beliau berkata : “Kami duduk-duduk di dalam masjid bersama Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu lalu dikumandangkan adzan maka berdirilah seorang laki-laki lalu berjalan  kemudian Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengikutinya dengan pandangan hingga keluar masjid lalu berkata : “Adapun orang ini maka ia telah bermaksiat kepada Abul Qasim (Rasulullah) shalallahu ‘alaihi wasallam” (HR. Muslim)

3. Tidak adanya keringanan dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam untuk meninggalkan shalat berjama’ah.

Diriwayatkan bahwa Ibnu Ummi Maktum radhiyallahu ‘anhu  pernah bertanya kepada Rasululllah shalallahu ‘alaihi wasallam :

“Wahai Rasulullah ! Saya adalah orang yang buta, rumah saya jauh (dari masjid), dan saya tidak mempunyai penuntun yang selalu  menuntun saya (ke masjid) Apakah saya mendapatkan keringanan untuk shalat (fardhu) di rumah ? Bersabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam : “Apakah kamu mendengarkan adzan ?”, beliau menjawab “Ya”, lalu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Saya tidak mendapatkan keringanan untukmu”  (HSR. Abu Daud)

Di dalam hadits di atas Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam tidak memberikan keringanan kepada Ibnu Ummi Maktum radhiyallahu ‘anhu untuk shalat fardhu di rumahnya (tidak berjama’ah) kendati ada alasan, diantaranya karena beliau orang yang buta, rumahnya jauh dari masjid dan tidak mempunyai penuntun yang selalu menuntunnya menuju ke masjid, dan diriwayat lain disebutkan bahwa beliau telah lanjut usia, banyak hewan-hewan buas yang berkeliaran di sekitar kota Madinah dan adanya  pohon-pohon kurma dan pohon-pohon lainnya yang ada diantara rumah beliau  dan masjid.

4. Keinginan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam membakar rumah orang-orang yang tidak melaksanakan shalat berjama’ah

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Sungguh aku ingin memerintahkan anak-anak muda untuk mengumpulkan ikatan kayu bakar kemudian   saya  mendatangi  sekelompok   kaum yang shalat di rumah-rumah mereka (masing-masing) tanpa ada udzur lalu aku membakar rumah mereka” (HSR. Abu Daud)

Berkata Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullahu :

“Adapun hadits yang terdapat dalam bab ini maka nampak bahwa shalat berjama’ah hukumnya fardhu ‘ain sebab seandainya hukumnya sunnah niscaya orang yang meninggalkannya tidaklah diancam bakar dan seandainya hukumnya adalah fardhu kifayah niscaya shalat yang telah dilaksanakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersama shahabatnya telah cukup” (Lihat Fathul Baari 2:125-126)

Perkataan Salafus Shalih

Berkata Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu : “Barang siapa yang mendengar panggilan shalat (adzan) kemudian dia tidak memenuhi panggilan tersebut tanpa adanya alasan syar’i, maka tidak ada shalat baginya”.

Semoga Allah subhaanahu wata’alaa  memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada seluruh kaum muslimin. Aamiin.

sumber klik di sini

sumber gambar klik di sini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s