Mesjid Kampus: Sebuah Ilustrasi Kehidupan

Oleh Muhammad Akbar (MSO SCRN)

Mahasiswa Administrasi Pendidikan 2008 FIP UNM

Ketika menulis artikel ini saya tak tahu harus memulainya dari mana, karena hemat kami masalah yang akan kami ulas berkaitan erat dengan masalah sosial kemasyarakatan yang sangat kompleks di lingkungan kampus (baca universitas) khususnya masalah yang menimpa para mahasiswa dan kehidupannya sebagai kelompok mayoritas yang begitu sangat pelik karena  menerjang siapa saja secara membabi buta tanpa terkecuali mahasiswa yang berkomitmen untuk mengabdikan dirinya di jalan Allah tabaraka wata’ala  (seperti pejuang dakwah, remaja mesjid, dll.). sehingga bertolak dari alasan tersebut sepertinya membahas masalah sosok mahasiswa dan sifat kepemudaannya serta segala hal yang melingkupinya adalah sesuatu yang selalu memberikan daya tarik bagi siapa saja untuk mengkajinya. Namun ada satu sisi dari sosok tersebut yang jarang terbaca dan teredeteksi oleh pandangan mata publik, yaitu mahasiswa yang kebanyakan dikenal shaleh oleh kecamata keawaman kebanyakan orang. Sangat jarang yang tahu sebenarnya apa yang terjadi di balik tabir keshalehan itu, apakah label keshalehan yang melekat dalam dirinya hanyalah topeng atau kedok untuk menuai kewibawaan di depan orang atau mungkin hanyalah bias kegagalannya menemukan peran dalam drama kehidupan pecandu dunia, tapi itu hanyalah spekulasi sederhana saja yang semoga tidak pernah terekam dalam sejarah  wallahu a’lam.

Sifat dasar kita bersama memberikan kesimpulan sederhana bahwa siapapun dia ketika ditawarkan dengan eksotika dunia yang mempesona maka  kecenderungannya kita akan sulit untuk menolaknya terlebih lagi ketika silau dari gemerlap dunia itu lebih kuat dan kekar dari idealisme yang kita miliki baik idealisme keimanan (keistiqomahan) maupun idealisme secara umum yang menyangkut keyakinan dan konsistensi kita masing-masing terhadap sesusatu.

Berbicara tentang bahaya kenikmatan dunia bukanlah disebabkan karena kebencian penulis terhadap dunia namun ini sekedar proses atau usaha pengalihan orientasi hidup, dari kenikmatan fana menuju kenikmatan abadi nan absolut yang dijanjikan oleh Allah tabaraka wata’ala. Banyak orang ketika diingatkan dengan kesibukan dunianya yang terkadang mengesampingkan dan menomor sekiankan urusan akhiratnya justru memberikan vonis overlike pada akhirat (berlebih-lebihan terhadap urusan akhirat/bersikap protektif terhadap urusan dunia)  kepada sang pemberi nasihat atau malah mengatakan “silahkan nasihati diri anda sendiri”, atau “urus urusanmu sendiri moralku adalah moralku dan moralmu adalah moralmu”. Naas namun itulah kenyataan sebenarnya.

Ulasan di atas hanyalah pengantar menuju pembahasan inti kita. Seperti judul artikel tersebut di atas penulis berusaha untuk menggambarkan posisi sentral mesjid yang mulai bergeser seiring bergesernya paradigma sebagian besar masyarakat khususnya para pemuda serta wabah penyakit virus-virus dunia yang mulai merangkak masuk ke mesjid. Sehingga jangan heran ketika Kedekatan kita dengan mesjid seolah-olah dianggap sebagai sebuah kekolotan dan ketertinggalan yang mengungkung kebebasan atau malah menganggap mesjid dan perkumpulan yang berbasis nilai-nilai keislaman sebagai lahan pengembangbiakan paham radikalisme sehingga dengan entengnya menggelari kita sebagai kelompok revivalis/radikalis yang sewaktu-waktu dapat menggoyahkan stabilitas sosial. Sekali lagi ini bukanlah ajang untuk mencela dunia dan gemerlapnya karena hal yang demikian adalah sama dengan mencela yang menciptakan dunia yaitu Allah tabaraka wata’ala. Dalam pandangan kita mesjid kampus adalah salah satu lahan yang paling subur dan menjanjikan dalam suksesi pembangunan peradaban islam,  kita tahu bersama kampus adalah sebuah narasi  kehidupan yang bercirikan kedinamisan. Aktivitas akademis dan sosio-kultural agamis adalah bagian yang tak terpisahkan darinya, sehingga sangatlah tepat ketika kampus dijuluki pabrik orang-orang cerdas apatahlagi ketika dibalut dengan lumuran pendidikan agama dan etika. Kebesaran nama mesjid kampus tak bisa dipisahkan dari peran LDK (Lembaga Dakwah Kampus) dan para penunggangnya, sebagai contoh Mesjid Salman ITB dan GAMAISnya, pergerakannya yang luar biasa mampu memberikan warna yang sangat kontras terhadap ITB dan outputnya, Inilah kemudian yang melatar belakangi menggaramnya LDK, GAMAIS, maupun ROHIS diberbagi kampus (Universitas) baik barat maupun timur Indonesia. Bukan tidak mungkin suatu saat perkumpulan ini akan menjelma menjadi kekuatan massa yang super power di lingkungan kampus dan bahkan akan merambah keranah sosial yang lebih kompleks. Sebagaimana disebutkan tadi antara LDK dan Mesjid Kampus memiliki hubungan intrik yang sangat romantis dan keduanya tak bisa di pisahkan satu sama lain kecuali pada kondisi tertentu karena keduanya saling bersimbiosis mutualisme. Idealnya, mesjid kampus merupakan basecamp utama LDK dalam melakukan aktivitas dakwahnya atau bahasa sederhananya segala jenis aktivitas dakwah atau pergerakannya (harakah) atau apapun namanya harus berawal dari mesjid kampus.

Kondisi real yang terjadi seolah menerangkan kepada kita bahwa zaman akan melakukan proses seleksi karena setiap zaman memberikan tantangan yang unik dan berbeda-beda sehingga mengharuskan kita memiliki kemampuan untuk menerjemahkannya berdasarkan keunikannya masing-masing. Proses seleksi yang dilakukan oleh zaman adalah sebuah keniscayaan, sehingga dia akan menyingkirkan yang lemah (futur) dari laga tanding dan cuma yang kuat (istiqomah) yang akan tetap survive. Demikian juga dengan para militan/pejuang dakwah, zaman juga akan menyeleksinya karena dia adalah bagian integral darinya, sehingga dalam konteks ini kualitas keimanan kita akan sangat berpengaruh dalam menentukan posisi kita nantinya apakah kita akan tetap langgeng atau malah sebaliknya kita akan berbalik arah, tersisih dan akhirnya menjadi buih yang terombang-ambing.

Masalahnya tidaklah sampai di situ, secara otomatis posisi kita (istiqomah atau futur) akan turut mempengaruhi keadaan di sekitar kita sebagai contoh sinergitas LDK dan mesjid kampus akan ikut tercerabut ketika para pengusungnya mulai lelah dan merasa terbebani dengan aktivitasnya selama ini (dakwah). Inilah awal musibah yang sesungguhnya. Sebagai gambaran: kesibukan akademis seolah menjadi bencana sekaligus alasan utama penyebab bergesernya rasa dan sikap militansi dakwah, atensi yang tidak seimbang serta manajemen waktu yang tidak proporsional menyebabkan kecenderungan kita harus berpihak antara dakwah dan kuliah. Selain itu kemauan dan kesungguhan yang ada dalam diri kita untuk berdakwah sepertinya memang berada pada posisi terbawah dalam daftar panjang minat-minat dan kesungguhan kita terhadap sesuatu. Anggapan sederhananya kita terdampar pada wilayah yang tidak kita kehendaki, semoga tidak demikian.

banyak contoh klasik namun anehnya terjadi hari ini misalnya banyak diantara kita yang tidak lagi menjadikan mesjid sebagai sarana untuk belajar agama namun terkadang kita jadikan sebagai tempat peristirahatan disaat kita lelah menuntut dunia/tempat tidur-tiduran, atau malah kita jadikan mesjid sebagai kantin yaitu hanya sekedar tempat untuk menghabiskan bekal makan siang yang kita bawa dari rumah, atau parahnya kita jadikan mesjid sebagai tempat mengsirkulasikan cerita-cerita bohong yang penuh dengan bualan, dan  masih banyak lagi bentuk kebiasaan keliru yang sering kita kerjakan di mesjid. Saya takut dan kahawatir ini akan menjadi penyebab petaka kemunduran umat. Ketika kita tak mampu lagi membedakan antara kepentingan dunia dan kepentingan akhirat maka saat itulah segalanya akan tak berarti lagi, kehidupan ibaratnya hanyalah permainan yang tidak mengandung konsekuensi dan arti apa-apa. Ketika hati tak lagi merasakan sakit dan bahagia maka saat itulah dunia akan menjadi gelap, dan ketika akal tak lagi berpikir maka saat itulah dunia akan menjadi dungu. Lalu dunia akan hancur bersama tangisannya yang lirih, menggelegar, memekakkan telinga-telinga yang tuli. Namun apa daya semuanya telah berakhir. Demikianlah ketika kita salah mempersepsikan peradaban, sesungguhnya peradaban sejati itu adalah peradaban yang mencetak  pejuang-pejuang tangguh bak umar ibnul khattab, ali bin abi thalib, Khalid bin walid, dan sederet nama yang menghiasi sejarah gemilang kaum muslimin, panggung sejarah telah bersaksi bahwa mereka lahir dan besar dari tempat yang bernama mesjid. Peradaban bukanlah contekan dan jiplakan dari para pembohong dan pembuat makar (para kuffar). Terakhir dariku janganlah engkau nodai mesjid dengan kejahilanmu sobat karena dia tak berharap banyak darimu dia hanya ingin engkau sibuk dan khusyuk menawar surga kapada Rabb-mu di dalam dekapannya, cuma itu sangatlah sederhana apakah pantas cinta yang suci itu berbalas duri yang menyakitkan. Sobat perlakukanlah dia sebagai hartamu yang paling kau agungkan dalam hidupmu, karena dia engkau bisa beroleh tempat yang teduh di surga.

Makassar, 6 desember 2011

at 09:39 p.m

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s