Konsisten Beramal Walau Sedikit

Segala puji bagi Allah  penguasa alam semesta. Shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada imam para hamba-Nya Muhammad Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam serta keluarga, sahabat, dan para peniti jalannya yang mulia hingga hari kiamat.

Amma ba’du :

“Sedikit-demi sedikit lama-lama menjadi bukit.” Demikianlah peribahasa yang sering diajarkan oleh para pendidik kepada peserta didiknya, terutama murid-murid SD ketika diberi pengarahan oleh gurunya dalam menabung uang. Dalam peribahasa tersebut tergambarkan sebuah solusi praktis yang biasa diupayakan seseorang dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. Ia tidak perlu menyelesaikannya secara tuntas dalam satu waktu, melainkan ia bisa mencicil tugasnya sedikit-demi sedikit tapi terus dilakukan secara rutin. Hal ini lebih ringan ketimbang melakukannya sekaligus tapi dengan hasil yang kurang maksimal.

Demikian pulalah Nabi shalallahu alaihi wa sallam  dalam sunnah-sunnahnya memberikan wasiat kepada umatnya tentang hal yang semakna dengan peribahasa di atas. Dalam sebuah haditsnya :

عن عائشة بنت أبي بكر الصديق –رضي الله عنهما- قالت : قال رسول الله  صلى الله عليه وسلم : ((أَحَبُّ الْعَمَلِ إِلَى اللَّهِ مَا دَاوَمَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ وَإِنْ قَلَّ )) متفق عليه , و اللفظ لمسلم

Dari ‘Aisyah binti Abi Bakr Ash-shiddiq –radhiallahu anhuma- berkata : Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda : “Amalan yang lebih dicintai Allah adalah amalan yang terus-menerus  dilakukan walaupun sedikit”.HR Bukhari dan Muslim, dengan lafazh Muslim.[1]

Sabda Nabi shalallahu alaihi wa sallam yang cukup singkat ini namun padat mengandung faedah yang sangat besar bahkan menjadi prinsip penting dalam ajaran Islam yang bisa direalisasikan pada aspek-aspek lainnya yaitu kaedah : Sedikit tapi rutin lebih baik daripada banyak tapi tidak diteruskan.

Dalam hadits yang mulia ini Nabi shalallahu alaihi wa sallam  menjelaskan bahwa amalan yang dilakukan secara rutin walaupun sedikit lebih Allah cintai daripada amalan besar yang dilakukan kemudian ditinggalkan begitu saja.  Sebagai contoh: Seseorang melakukan qiyamul lail hanya 2 rakaat atau 4 rakaat dengan membaca surat-surat pendek, tapi ia rutin melakukannya secara kontinyu hampir setiap malam maka yang ia lakukan ini lebih baik daripada seseorang yang melakukan qiyamul lail dengan rakaat dan bacaan yang panjang kemudian ia meninggalkannya.

Hal ini dikarenakan amalan yang ia lakukan secara rutin akan membuatnya senantiasa menjaga ketaatan dan taqarrub kepada Allah Ta’ala walaupun ringan. Ibnu Al-’Arabi berkata : Maksudnya bahwa amalan yang paling banyak pahalanya adalah yang rutin dilakukan terus-menerus walaupun sedikit.

Imam Nawawi menjelaskan: Karena dengan merutinkan amalan yang sedikit akan membuatnya selalu menjaga ketaatan dengan mengingat Allah, merasa diawasi, ikhlas, dan mendekatkan diri kepada-Nya. Berbeda halnya dengan amalan yang banyak dan berat (tapi tidak rutin dilakukan). Sehingga sesuatu yang sedikit tapi terus-menerus itu akan berkembang dan mengungguli berlipat-lipat ganda daripada  amalan yang banyak tapi terputus (tidak diteruskan).

Ibnul Jauzi juga berkata : Sesungguhnya Allah lebih mencintai amalan yang dilakukan secara rutin disebabkan 2 hal:

  1. Bahwa orang yang meninggalkan suatu amalan setelah ia membiasakannya bagaikan orang yang berpaling setelah ia sampai tujuan, maka ia seolah-olah berpaling dari amalan tersebut, maka dari itu ada ancaman bagi orang yang hafal satu ayat kemudian melupakannya, walaupun sebelum ia hapal belum wajib baginya menjaga hapalan tersebut.
  2. Bahwa merutinkan suatu kebaikan merupakan bentuk pengabdian yang terus-menerus, sehingga orang yang mendiami suatu pintu dalam satu waktu setiap harinya tidak sama dengan orang yang mendiaminya seharian penuh tapi kemudian ia tinggalkan[2].

Dari hadits di atas dapat disimpulkan bahwa melakukan ibadah (yang sesuai dengan sunnah) secara ringan lebih baik daripada bersungguh-sungguh melakukan bid’ah. Hal tersebut disebabkan ibadah itu walaupun  dilakukan sedikit maka tetap bermanfaat bagi yang mengerjakannya. Adapun bersunguh-sungguh dan rajin melakukan bid’ah maka  banyak atau sedikitnya akan tetap membahayakan pelakunya.

Hadits yang disebutkan di atas konteks lengkapnya adalah sebagai berikut :

عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – قَالَتْ لَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى الشَّهْرِ مِنَ السَّنَةِ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ وَكَانَ يَقُولُ : (( خُذُوا مِنَ الأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ لَنْ يَمَلَّ حَتَّى

تَمَلُّوا)). وَكَانَ يَقُولُ : (( أَحَبُّ الْعَمَلِ إِلَى اللَّهِ مَا دَاوَمَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ وَإِنْ قَلَّ

Dari ‘Aisyah –radhiallahu ‘anha- berkata : Tidak pernah Rasulullah صلى الله عليه وسلم berpuasa lebih banyak pada suatu bulan selain bulan sya’ban, dan beliau bersabda : “Kerjakanlah amalan sesuai apa yang kalian mampu karena sesungguhnya Allah tidak akan pernah bosan sampai kalian bosan”. Beliau juga bersabda : “Amalan yang lebih dicintai Allah adalah amalan yang terus-menerus  dilakukan walaupun sedikit”.

Dalam hadits ini Nabi shalallahu alaihi wa sallam menyuruh kita agar tidak beribadah kecuali dengan apa yang kita mampu. Beliau melarang kita untuk memaksakan diri melakukan amalan yang tidak kita mampu atau melakukan ibadah secara berlebihan karena dikhawatirkan ibadah tersebut akan terputus dan tidak terus dilakukan. Ibnu Hajar berkata : Karena orang yang ekstrim dan berlebih-lebihan dalam beribadah sangat mudah terjatuh pada rasa bosan dan jenuh. Berbeda halnya dengan orang yang melakukan ibadah secara seimbang (tidak berlebihan) maka ia akan lebih mudah untuk terus melakukannya secara rutin[3].

Hal itu dikarenakan ketika seseorang membiasakan suatu amalan ibadah maka tidak sepantasnya ia melakukannya kemudian meninggalkannya begitu saja. Dan Allah telah mencela orang-orang yang melakuka perbuatan tersebut dalam firmanNya:

وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلا ابْتِغَاءَ رِضْوَانِ اللَّهِ فَمَا رَعَوْهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا

“dan mereka mengada-adakan kependetaan padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya.” [QS. Al-hadid : 27].

Dalam ayat ini Allah mencela mereka karena meninggalkan amalan yang telah mereka biasakan. Oleh karena itu ‘Abdullah bin Amr berkata ketika telah lemah dan tak kuat melakukan amalan yang telah ia tekuni: Seandainya saja dulu aku menerima rukhshah (keringanan) dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam[4].

Berkata Al-Mahlab: Diantara hak tubuh adalah menyisakan padanya kekuatan yang dengannya amlannya akan bisa terus dilakukan karena apabila ia berlebih-lebihan maka ibadahnya akan terputus dan ia akan futur[5].

Maka yang dimaksud dari hadits di atas adalah agar kita mengambil amalan yang lebih mudah dan melakukannya secara seimbang dan tidak mengambil amalan yang terlalu memberatkan kita. Imam Abu Dawud meriwayatkan hadits dari ‘Aisyah –radhiallahu ‘anha-: Bahwasannya tidaklah Nabi shalallahu alaihi wa sallam ketika diberi pilihan atas 2 perkara  kecuali ia memilih yang lebih ringan selama tidak termasuk dos. Dan beliau shalallahu alaihi wa sallam  tidak pernah sedikitpun marah karena dirinya sendiri, kecuali apabila ada larangan Allah yang dilanggar maka beliau marah karena AllahTa’ala.

Dan begitu pula pada perkara umatnya antara berlebih-lebihan dan memperbanyak ibadahnya atau tengah-tengah dan seimbang serta tidak berlebih-lebihan. Telah kita ketahui bahwa memperbanyak ibadah sampai membuatnya bosan kemudian meninggalkannya bukanlah hal yang terpuji. Akan tetapi sedikit yang dilakukan secara terus-menerus dan memungkinkannya untuk melaksanakannya secara rutin maka itulah yang ada mashlahatnya. Hal tersebut disebabkan sedikit tapi diiringi dengan konsisten lebih baik daripada banyak tapi terputus. Orang yang bersungguh-sungguh pada satu waktu kemudian malas dan bosan sehingga meninggalkan amalannya secara keseluruhan maka ini tidak baik. Namun apabila ia melakukannya walupun sedikit tapi secara terus-menerus dan konsisten seterusnya maka ini lebih utama. Misalnya seseorang berpuasa 3 hari pada setiap bulan maka ini lebih utama daripada ia berpuasa selama 1 atau 2 bulan kemudian lelah dan meninggalkannya dan begitulah memperbanyak ibadah yang sampai membuatnya bosan dan meninggalkannya adalah perkara tidak baik[6].

Ibnu Wadhdhah menjelaskan makna “Allah tidak akan bosan sampai kalian bosan” pada hadits di atas: Maknanya adalah Allah tidak akan bosan memberi pahala sampai kalian bosan melakukan amalan tersebut. Ad-Dawdi menuturkan bahwa Ahmad bin Abi Sulaiman berkata: Maknanya yaitu Allah tidak akan pernah bosan adapun kalian bisa saja bosan.

Dalam hadits di atas pula terkandung salah satu bentuk kasih sayang Allah terhadap hamba-Nya dimana Allah tidaklah membebani hambanya kecuali sesuai kemampuannya. Yang dituntut dari syariat ini adalah agar kita senantiasa menjaga ketaatan walaupun dengan amalan yang kecil. Amalan yang kecil jika dilakukan dengan penuh rasa ikhlash dan terus-menerus maka akan seperti peribahasa “sedikit-demi sedikit lama-lama menjadi bukit”. Yang Allah lihat dari hamba-Nya adalah kualitas amalannya bukan kuantitasnya sebagaimana firman-Nya :

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” [QS. Al-mulk : 2].

Allah tidak berfirman “yang paling banyak amalannya”, karena banyaknya amalan tanpa disertai keikhlashan dan tata cara yang benar tidak ada manfaatnya.  yang bermanfaat adalah amalan yang dilakukan dengan penuh ikhlash hanya mengharap wajah Allah dan mengikuti tuntunan Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam serta dilakukan terus-menerus (walaupun sedikit).

Namun bukan maksud dari hadits ini agar kita tidak bersungguh-sungguh dan tidak boleh memperbanyak amalan. Namun maksudnya adalah agar kita berusaha semampu kita untuk beramal sebanyak-banyaknya secara rutin dan terus-menerus dengan tetap memperhatikan kualitas amalan kita dan juga menjaga amalan lain yang lebih utama. Jangan sampai berlebihan melakukan amalan yang sunnah sampai amalan yang wajib terbengkalai. Misalnya berlebihan dalam qiyamul lail sampai shalat shubuh berjamaahnya tertinggal karena terlalu lelah semalaman.Yang jadi prinsip agama ini adalah sikap tengah-tengah dalam semua perkara, tidak berlebih-lebihan dan tidak pula menyepelekan. Allah berfirman :

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

“Dan demikian (pula) kami Telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang tengah-tengah (adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” [QS. Al-baqarah : 143]

Semoga Allah senantiasa memberi kita taufiq dan petunjuk untuk terus berpegang teguh dengan tali Allah dan menjadikan kita di antara hamba-hambanya yang shalih. Amin.Wa shallallahu ‘ala muhammadin wa alihi wa shahbihi wa sallam…..

 

Oleh: Ustadz Ahmad Fahrisan Ibn Ni’matullah (Mahasiswa Universitas Islam Madinah Saudi Arabia Jurusan Hadits)
[1] Shahih Muslim (2779)

[2] Hasyiatus suyuthi was sindi ‘ala sunanin nasa’I (2/42)

[3] Fathul bari : (9/105-106)

[4] Syarah Shahih bukhari Ibnu Baththal : (4/20)

[5] Syarah Ibnu Baththal : (7/140)

[6] Syarah sunan Abu Dawud, Syekh Abdul Muhsin Al-abbad : (27/400)

 

dikutip dari : www.yayasanalhanif.org

sumber gambar : hanyamotif.blogspot.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s