Keshalihan Setiap Orang berbeda-beda

Keshalihan itu banyak ragamnya. Ia seperti keimanan yang oleh Rasulullah r  dikatakan mempunyai banyak cabang . Di antara cabang – cabang tersebut, yang tertinggi adalah kalimatLaa ilaaha illallah. Dan yang terendah adalah menyingkirkan onak duri dari jalanan. Sebagaimana hadits Rasulullah r, artinya : “Iman itu lebih dari enam puluh cabang. Cabang yang paling utama adalah ucapan, ‘Laa ilaaha illallah’ dan cabang yang paling rendah yaitu menyingkirkan kotoran dari jalan“. (HR. Muslim).

Keanekarangaman keshalihan itu tentu akan sulit untuk kita amalkan seluruhnya. Sebab kita serba terbatas.

Sepanjang sejarah manusia teramat sangat jarang kita temukan sosok yang dapat merangkum sekian keshalihan itu. Selain Rasulullah r  tentu saja , kita mungkin mengenal sosok Abu Bakar t, sahabat Rasulullah r yang amat dicintainya.  Beliau r pernah bersabda, artinya : “Andaikata aku akan mengangkat seorang khalil (kekasih) dari umatku niscaya aku angkat Abu Bakar, tetapi cukuplah sebagai saudara dan sahabatku. Sungguh Alloh telah mengangkat sahabat kalian ini (maksudnya diri beliau sendiri) menjadi khalil-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah t bahwa Rasulullah r pernah bertanya kepada para sahabatnya di suatui pagi, “Siapakah diantara kalian yang berpuasa pada hari ini?” Abu Bakar menjawab ”Saya!” Rasul r bertanya lagi ”Siapakah diantara kalian yang mengiringi jenazah pada hari ini?” Abu Bakar t menjawab ”Saya!”. “Siapakah yang memberi makan fakir miskin pada hari ini?” tanya Rasul r lagi. “Saya!” jawab Abu Bakar. “Siapakah diantara kalian yang menjenguk orang sakit pada hari ini?” tanya Rasul r pula. “Saya!” jawab Abu Bakar. Kemudian Rasulullah r  bersabda : “Tidaklah terkumpul perkara tersebut pada seorang hamba kecuali pasti masuk surga.” (HR. Muslim)

Maka pastaslah  Rasulullah r pernah bersabda : “Sesungguhnya yang paling besar jasanya padaku dalam persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar ” (HR. Bukhari dan Muslim).

Demikianlah. Sampai – sampai ‘Umar ibn Al-khathab t pun mengakui bahwa, “Sungguh aku tidak akan mungkin menyamai pria yang satu ini, selamanya”.

Ah, tapi jangan pernah bersedih Saudaraku. Memang kita mungkin tidak sanggup seperti dia t. Tetapi, satu hal yang patut kita renungkan, keshalihan itu ibarat rezki dari Allah I . Allah I lah yang mengaruniakan hidayah kepada kita untuk mengerjakan sebuah keshalihan, sekecil apapun itu.

Maka sebagaimana rezki, ada orang yang mendapatkan keshalihan berlimpah namun ada yang biasa – biasa saja. Ada orang yang dibukakan pintu rezkinya dari arah perdagangan, namun ada pula yang dibukakan dari pintu yang lain. Tentu saja ketika Anda hanya mendapatkan limpahan rezeki yang tak seberapa, anda tidak boleh berhenti untuk bekerja keras. Seperti itu pulalah keshalihan.

Sepucuk Surat dari Sang Imam

Apa yang terpaparkan di atas terilhami oleh sepucuk surat yang pernah dikirimkan Imam Malikrahimahullah kepada salah seorang sahabatnya yang bernama ‘Abdullah Al ‘Umary.

Kebetulan ‘Abdullah Al ‘Umary ini adalah seorang ahli ibadah yang bermukim di Mekkah. Ia tidak mempunyai aktifitas lain selain ibadah  seraya beruzlah saja. Dia mungkin berpikir bahwa itulah ibadah  yang paling disukai Allah Ta’ala.

Maka ia pun menulis sepucuk surat yang kemudian ia tujukan kepada Imam Malik ibn Anasrahimahullah di Madinah. Isinya tentu saja adalah ajakan kepada Imam Malik rahimahullah agar meninggalkan Madinah dan mengikuti jejaknya beruzlah di Mekkah agar lebih berkonsentrasi menjalankan ibadah. Ia meminta sang Imam untuk tidak lagi mengajar dan menyampaikan ilmu yang ia miliki, untuk kemudian memfokuskan diri beribadah di sisi ka’bah masjidil haram yang mulia itu.

Ya, jelas saja, sang sahabat mengajaknya karena keutamaan masjidil haram yang begitu besar besar di matanya. Bukankah Rasulullah r pernah bersabda, artinya : “Shalat di Masjidku lebih utama 1000 kali shalat dibandingkan shalat di masjid yang lain, kecuali Masjidil Haram. Dan shalat di Masjidil Haram lebih utama 100.000 kali lipat dibandingkan shalat di masjid yang lain”. (HR. Ibnu Majah 1406, dan dishahihkan oleh Al-Albani).

Dan ketika Imam Malik menerima surat itu, segera saja beliau menyiapkan balasannya. Dan surat balasan itu berbunyi seperti ini…

“…sesungguhnya Allah I telah membagi amalan (keshalihan) itu sebagaimana Ia I  telah membagi rezki. Terkadang ada orang yang dibukakan jalannya untuk lebih banyak mengerjakan shalat namun tidak dibukakan untuknya jalan untuk lebih banyak berpuasa.

Ada pula yang lain yang mungkin dimudahkan untuk bersedekah, namun tidak dibukakan jalan untuk banyak berpuasa. Mungkin ada juga yang lain yang di mudahkan untuk berjihad (namun tidak dibukakan untuk yang lainnya).

Adapun menyebarkan ilmu itu sendiri adalah salah satu amal keshalihan. Dan saya sudah merasa ridha terhadap jalan yang dibukakan (Allah) untukku ini. Dan saya yakin bahwa apa yang saat ini aku kerjakan tidak lebih buruk dari apa yang tengah engkau kerjakan. Namun saya tentu berharap bahwa kita berdua selalu berada dalam kebaikan dan Keshalihan…” (Siyar A’lam An Nubala ‘8/15).

Dan surat singkat ini tentu saja ditujukan untuk kita pula. Untuk saya dan Anda para pembaca yang budiman.

Maka, saatnya untuk mensyukuri segala kemudahan yang dikaruniakan oleh Allah I kepada kita dalam hal keshalihan. Ketika Allah I memudahkan kita untuk puasa, maka syukurilah dengan optimalisasi puasa. Ketika Allah I  menganugerahkan kemudahan untuk banyak mengerjakan shalat, sujud dan rukuk, maka syukurilah dengan optimalisasi shalat di setiap kesempatan. Begitu pula dengan kemudahan akan keshalihan – keshalihan lainnya.

Teruslah beramal shalih… Semoga Allah senantiasa menetapkan kita selalu di bawah bimbingan taufiqNya. Wallahu A’lam.

[Tulisan ini banyak diinspirasi dari Buku “Perindu – Perindu Malam dan Rindu yang Berujung Surga”, Abul Miqdad Al-Madany].

sumber : al-munir.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s