Saya Sudah Wudhu, Batal Tidak Ya?

Dalam kehidupan sehari – hari, kita terkadang menemui sebuah permasalahan khususnya dalam hal ibadah dan muamalah yang tidak ada solusi secara langsung dan tekstual dalam al-Qur’an dan Hadits.

Terkadang, teks al-Qur’an dan Hadits masih bersifat umum dan luas untuk memaknai fenomena kekinian yang sulit dipecahkan. Hal ini bukanlah indikasi akan kekurangan agama kita. Bukan, bahkan justru menandakan bahwa agama ini telah mengatur segala aspek kehidupan meskipun masih bersifat umum, dan kita sebagai penganutnya mesti mempelajarinya.

Dalam upaya itu, para ulama kita telah mencurahkan segala upaya untuk memformulasikan beberapa kaidah – kaidah pokok yang dapat digunakan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan agama dengan bersumber pada hukum – hukum al-Qur’an dan Hadits.

Judul di atas, adalah salah Kaidah Ushul (pokok) dalam agama kita. Kaidah tersebut :

الْيَقِنُ لَا يُزَالُ بِالشَّكِّ

artinya : “Keyakinan tidak dapat dihapuskan dengan keraguan”

Makna Kaidah

اليَقِيْنُ (al-yaqin) secara bahasa adalah kemantapan hati atas sesuatu.

الشَكُّ (asy-syak) secara bahasa artinya adalah keraguan. Maksudnya adalah apabila terjadi sebuah kebimbangan antara dua hal yang mana tidak bisa memilih dan menguatkan salah satunya.

Perlu dipahami bahwa pengetahuan seseorang terhadap sesuatu bertingkat tingkat, yaitu :

1. Tingkatan pertama,  اليَقِيْنُ (al-yaqin) yaitu keyakinan hati yang berdasarkan pada dalil.

2. Tingkatan kedua, الظَنُّ (azh-zhan) yaitu persangkaan kuat. Contoh : apabila seseorang sedikit meragukan sesuatu apakah halal ataukah haram, namun persangkaan yang kuat dalam hatinya berdasarkan dalil yang dia ketahui bahwa hal itu haram, maka persangkaan kuat inilah yang dinamakan dengan الظَنُّ.

3. Tingkatan ketiga, الشَكُّ (asy-syak) yaitu keraguan tanpa bisa memilih dan tidak bisa menguatkan salah satu diantara keduanya.

4. Tingkatan keempat, الوَهْمُ (al-wahmu) yaitu persangkaan yang lemah. Contoh : Pada kasus الظَنُّ, maka kemungkinan yang lemah, yaitu halalnya perbuatan tersebut itulah yang dinamakan dengan الوَهْمُ.

5. Tingkatan kelima, الجَهْل (al-jahlu) yaitu tidak mengetahui sama sekali (kebodohan) dan ia terbagi menjadi dua macam :

  • الجَهْلُ الْبَسِيْطُ (al-jahlu al-basith) yaitu orang yang tidak tahu namun dia menyadari bahwa dirinya tidak mengetahui (kebodohan yang ringan).
  • الجَهْلُ الْمُرَكَّبُ (al-jahlu al-murakkab) yaitu orang yang yang tidak tahu tapi mengaku mengetahui (kebodohan berat).

Jadi makna kaidah di atas adalah :

“Bahwa sebuah perkara yang diyakini sudah terjadi tidak bisa dihilangkan kecuali dengan sebuah dalil yang meyakinkan juga, dalam artian tidak bisa dihilangkan hanya sekedar dengan sebuah keraguan, demikian juga sesuatu yang diyakini belum terjadi maka tidak bisa dihukumi bahwa itu telah terjadi kecuali dengan sebuah dalil yang meyakinkan juga.”

Dalil – Dalil yang Mendasari Kaidah

Kaedah ini terambil dari pemahaman banyak ayat dan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam , di antaranya :

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, artinya : “Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan, sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran.” (QS. Yunus : 36).

Sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, artinya : “Apabila salah seorang di antara kalian merasakan sesuatu dalam perutnya, lalu dia kesulitan menetukan apakah sudah keluar sesuatu (kentut) ataukah belum, maka jangan membatalkan sholatnya sampai dia mendengar suara atau mencium bau.”   (HR. Muslim).

Imam Nawawi rahimahullah berkata : “Hadits ini adalah salah satu pokok islam dan sebuah kaidah yang besar dalam masalah fiqh, yaitu bahwa segala sesuatu itu dihukumi bahwa dia tetap pada hukum asalnya sehingga diyakini ada yang bertentangan dengannya, dan tidak membahayakan baginya sebuah keraguan yang muncul.”

Hadits dari Abbad bin Tamim radhiallahu anhu dari pamannya berkata : “Bahwasanya ada seseorang yang mengadu kepada Rasulullah  Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bahwa dia merasakan seakan-akan kentut dalam sholatnya. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, artinya : “Janganlah dia batalkan sholatnya sampai dia mendengar suara atau mencium bau.”(HR. Bukhari dan Muslim).

Imam Al-Khaththabi rahimahullah  berkata : “Hadits ini menunjukkan bahwa keraguan tidak bisa mengalahkan sesuatu yang yakin.”

Juga sebuah dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu anhu, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, artinya : “Apabila salah seorang di antara kalian ragu-ragu dalam shalatnya, sehingga tidak mengetahui sudah berapa rakaatkah dia mengerkakan shalat, maka hendaklah dia membuang keraguan dan lakukanlah yang dia yakini kemudian dia sujud dua kali sebelum salam, kalau ternyata dia itu shalat lima rakaat maka kedua sujud itu bisa menggenapkan shalatnya, dan jikalau ternyata shalatnya sudah sempurna maka kedua sujud itu bisa membuat jengkel setan.” (HR. Muslim).

Kedudukan Kaidah

Kaedah ini memiliki kedudukan yang sangat agung dalam Islam, baik yang berhubungan dengan fiqh maupun lainnya, bahkan sebagian ulama’ menyatakan bahwa kaedah ini mencakup tiga perempat masalah fiqh atau mungkin malah lebih. (Lihat AlAsybah wan Nazha’ir oleh Imam As Suyuthi hal : 51).

Imam Nawawi rahimahullah berkata : “Kaidah ini adalah adalah sebuah kaedah pokok yang mencakup semua permasalahan,dan tidak keluar darinya kecuali beberapa masalah saja.” (Lihat Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzab 1/205).

Penerapan Kaidah

Sebagaimana dikatakan sebelumnya bahwa kaedah ini mencakup hampir semua permasalahan syar’i, maka cukup disini disebutkan sebagiannya saja sebagai sebuah contoh :

Apabila ada seseorang yang yakin bahwa dia telah berwudlu, lalu ragu ragu apakah dia sudah batal ataukah belum, maka dia tidak wajib berwudlu lagi, karena yang yakin adalah sudah berwudlu, sedang batalnya masih diragukan.

Dan begitu pula sebailknya, apabila orang yakin bahwa dia telah batal wudlunya, namun dia ragu-ragu apakah dia sudah berwudlu kembali ataukah belum ? maka dia wajib wudlu lagi karena yang yakin sekarang adalah batalnya wudlu.

Barang siapa yang berjalan di perkampungan lalu kejatuhan air dari rumah seseorang dari lantai dua, yang mana ada kemungkinan bahwa itu adalah air najis, maka dia tidak wajib mencucinya karena pada dasarnya air itu suci, dan asal hukum ini tidak bisa dihilangkan hanya dengan sebuah keraguan, kecuali kalau didapati sebuah tanda-tanda kuat bahwa itu adalah air najis, misalkan bau pesing dan lainnya.

Barang siapa yang berjalan di sebuah jalanan yang becek atau berlumpur yang ada kemungkinan bahwa air itu najis, maka tidak wajib mencuci kaki atau baju yang terkena air tersebut, karena pada dasarnya air adalah suci, kecuali kalau ada bukti kuat bahwa air itu najis.

Barang siapa yang telah sah nikahnya, lalu dia ragu-ragu apakah sudah terjadi talak ataukah belum, maka nikahnya tetap sah dan tidak perlu digubris terjadinya talak yang masih diragukan.

Orang yang pergi meninggakan kampung halaman dalam keadaan sehat namun bertahun-tahun tidak diketahui kabar beritanya, maka dia tetap dihukumi sebagai orang hidup yang dengannya tidak boleh diwarisi hartanya, sehingga datang berita yang meyakinkan bahwa dia telah meninggal dunia atau dihukumi oleh pihak pengadilan bahwa dia telah meninggal dunia.

Seorang istri yang ditinggal suaminya pergi, maka dia tetap dihukumi sebagai seorang istri, yang atas dasar ini maka dia tidak boleh menikah lagi, kecuali kalau datang berita meyakinkan bahwa suaminya telah meninggal dunia atau telah menceraikannya atau dia mengajukan gugatan cerai ke pengadilan lalu pengadilan memutuskan untuk memisahkannya hubungan pernikahan dengan suaminya yang hilang beritanya.

Orang yang yakin bahwa dirinya telah berhutang, lalu dia ragu-ragu apakah dia sudah melunasinya ataukah belum, maka dia wajib melunasinya lagi kecuali kalau pihak yang menghutangi menyatakan bahwa dia telah melunasi hutang atau ada bukti kuat bahwa sudah lunas, misalkan ada dua orang saksi yang menyatakan bahwa hutangnya telah lunas.

Apabila salah seorang lupa dalam shalatnya, lalu dia tidak mengetahui apakah dia sudah shalat satu atau dua rokaat, maka anggaplah bahwa dia baru shalat satu rakaat, juga apabila dia tidak yakin apakah sudah sholat dua ataukah tiga rokaat, maka anggaplah bahwa dia baru shalat dua rakaat, begitu pula apabila dia tidak mengetahui apakah dia sudah shalat tiga ataukah empat rakaat maka anggaplah bahwa dia baru sholat tiga rakaat, lalu setelah itu sujudlah dua kali sebelum salam. Karena yang yakin bahwa rakaat yang telah diselesaikan adalah rakaat shalat yang lebih sedikit.

Dan contoh – contoh lainnya baik yang langsung disebutkan dalam dalil/nash maupun yang tidak disebutkan tetapi bermakna sama. Wallahu a’lam.

sumber : al-munir.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s