Pendidikan Karakter Anak dalam Islam

r34_20093011

SCRN FIP UNM – Bismillahirrahmanirrahim. Islam merupakan agama yang sempurna, satu – satunya agama yang telah mengatur kehidupan manusia mulai dari hal terkecil hingga hal yang terbesar. Terkhusus kesempatan ini, Islam telah mengajarkan tentang pendidikan karakter yang saat ini menjadi trendi topik dalam pendidikan. Begitu banyaknya generasi muda kita yang rusak akibat kurangnya pendidikan karakter. Islam menjadi solusi atas masalah tersebut. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling lemah lembut dan telah mencontohkan kepada para sahabat dan ummat muslim mengenai pendidikan karakter. Hanya dalam waktu sekitar 22 tahun, Mekkah yang dulunya negeri yang penuh dengan kejahiliyahan menjadi negeri yang penuh rahmat Allah. Rasulullah telah mengajarkan kepada kita bagaimana mendidik anak agar menjadi anak yang sholeh. Hal itu dijelaskan berdasarkan kisah ketika beliau masih hidup.

Pada suatu hari Rasulullah sedang bersembahyang kemudian tidak lama berselang datanglah Al-Hasan dan Al-Husein cucu beliau memanjat ke punggungnya ketika beliau sedang melakukan sujud. Beliau terus saja dalam keadaan sujud dan tidak mau mengusir mereka hingga kedua anak itu turun sendiri. Ketika beliau telah mengucapkan salam dan selesai melakukan shalat, para sahabat bertanya mengapa beliau sujud begitu lama. Beliau menjawab: “kedua anakku menaiki punggungku dan aku tidak ingin mengusir mereka, “Rasulullah biasa mempercepat shalatnya bila beliau mendengar seorang anak menangis dan berkata “Aku tidak ingin melelahkan ibunya”.

Keteladanan Rasul yang lain dalam hal kecintaan beliau kepada anak-anak, serta ajaran beliau bagaimana memberikan pendidikan dan kasih sayang kepada anak-anak juga ditunjukkan kepada sahabat-sahabat  beliau, jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melihat salah seorang diantara para sahabatnya tidak mengasihi anak-anaknya, maka beliau mencemoohnya dan mengarahkannya pada hal yang akan membawa kebaikan rumah tangga, keluarga dan anak-anaknya. Imam Bukhari telah meriwatkan sebuah hadits yang diriwayatkan dari `Aisyah ra:

Artinya: “Seorang warga `arabi  mendatangi nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: apakah golongan kamu memeluk sayang anak-anak kecil kamu. Sedang pihak kami tidak melakukannya? Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Apakah aku berhak menasehatimu, bahwa Allah mencabut kasih sayang dari hatimu?”

Dalam Hadits lain yang juga diriwatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah ra. Berkata:

Artinya: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah mencium Hasan bin `Ali, sedangkan ketika itu duduk disamping beliau Al-Aqra` bin Habis Al-Tamimi, Al-Aqra` berkata: Sesungguhnya aku mempunyai sepuluh orang anak, tidak satupun yang pernah aku cium. Maka Rasulullah memandangnya dan bersabda: Barang siapa yang tidak mengasihi, tidak akan dikasihi”

Selanjutnya Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra.

Artinya: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah didatangi seorang laki-laki yang membawa seorang bayi, kemudian beliau meraih bayi itu kedalam pelukannya, lalu bersabda: apakah engkau menyayanginya? Laki-laki itu berkata: ya. Nabi bersabda: sesungguhnya Allah lebih menyayangi kamu dari pada kamu menyayangi dia. Dan Allah lebih mengasihi dari orang yang mengasihi.”

Beberapa petikan dan cuplikan kisah yang yang diriwayatkan oleh sahabat nabi tersebut menunjukkan betapa kecintaan dan kasih sayang nabi terhadap anak-anak begitu tinggi, dari pelajaran ini kita bisa memetik hikmah bagaimana seharusnya seorang muslim ketika memperlakukan anak-anak mereka bisa mencontoh apa yang telah dilakukan oleh nabinya. Dari hadits dan kisah-kisah di atas maka dalam konteks pendidikan budi pekerti ada beberapa hal bisa kita petik dari contoh dan perilaku yang ditunjukkan oleh Rasullullah.

  1. Pertama, kasih sayang kepada anak kecil janganlah bersifat abstrak, harus jelas ditunjukkan dengan perbuatan. Hal ini tergambar dari kisah Al-Aqra` bin Habis At-Tamimi dimana dari kesepuluh anaknya tidak satupun yang pernah diciumnya (konteks pendidikan anak, tunjukkan kasih sayang) kepada anak-anaknya.
  2. Kedua, jika kita sedang memberikan pendidikan kepada anak-anak, kita berperilaku seolah-olah seperti perilaku mereka. Ketika nabi shalat, Hasan cucu beliau naik di punggungnya, namun beliau membiarkannya tetap bermain tanpa berniat menurunkannya. Dalam konteks pendidikan untuk anak-anak bisa ditafsirkan bahwa selama perilaku dan kegiatan anak tidak membahayakan keselamatannya, maka biarkan anak-anak bermain, bereksplrorasi, bereksperimen sepuasnya sesuai dengan apa yang dia mau, sebab dalam konteks anak kecil dia masih ingin mengetahui hal-hal yang belum pernah dilakukannya. Jadi konteks pendidikan, orang tua dianjurkan memberikan ruang yang cukup untuk anak-anak menemukan jati dirinya, tanpa terlalu banyak memberikan kekangan yang nantinya hanya akan menjadikan anak merasa kurang bebas.
  3. Ketiga, dalam konteks pendidikan untuk anak orang tua haruslah memberikan perhatian penuh terhadap segala perilaku dan perkembangan anaknya baik itu perkembangan fisik, rasa, mental, maupun spiritual anaknya, hal ini terlihat dari kisah nabi ketika beliau sedang khutbah, beliau melihat cucunya Hasan dan Husein berlari menghampirinya dan kemudian terjatuh, dengan respectnya yang tinggi beliau menghentikan khutbahnya dan kemudian mendahulukan kepentingan cucu-cucunya tersebut. Cerita ini memberikan ibrah bahwa care  atau perhatian terhadap tumbuh berkembangnya anak-anak jangan sampai diduakan oleh hal-hal apapun seperti pekerjaan dan kegiatan lainnya, yang hanya akan menjadikan anak merasa terabaikan hak-haknya dalam mendapatkan kasih sayang orang tuanya.

Dari ketiga simpulan di atas maka sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah bahwa dalam konteks apapun, apakah itu dalam konteks pendidikan anak, maupun konteks kehidupan secara luas, hal yang terpenting adalah bahwa barang siapa yang tidak mengasihi, maka tidak akan dikasihi. Jika anda ingin orang sayang kepada anda, maka anda haruslah lebih dahulu menunjukkan sayang dan kasihnya kepada orang lain.

Ayo tonton video ceramah Ust. Aa Gym tentang Pendidikan Karakkter pada Anak

 

Sumber :

http://quranlearningcentre.com/mutiara_kebajikan/read/66/pendidikan-karakter-anak-model-rasulullah

https://www.youtube.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s