DAN BIDADARI PUN CEMBURU PADA-nya

Duh indahnya perangainya! lemah lembutnya, rasa malunya, sopan santunnya, tutur katanya, rasa pengasihnya, senyum ramahnya, salam sapanya, keteduhan hatinya…etc, siapa dia gerangan? sosok manusia jelita yang menyusuri lorong bumi dengan akhlak penduduk langit.

Yah! dia adalah sosok  yang sangat langka bahkan mungkin jejaknya sudah hampir pupus dari sejarah bumi, dia bukanlah barang antik peninggalan orang terdahulu, dia bukanlah harta karung yang menyejarah itu, dia bukan pula bongkahan emas yang menggelinding dari puncak bukit tapi dia adalah penyejuk hati orang-orang yang menyaksikannya. Sederhana saja dia adalah gadis biasa yang tak secantik dan seayu tokoh zulaikha dalam roman Kisah Cinta Zulaikha dan Yusuf, dia tak memiliki postur tubuh yang ideal seperti yang diidamkan para wanita penyembah kecantikan, kulitnya pun tak semulus dan seputih kulit yang tiap hari segar berseri bahkan hanya sekedar untuk memanjakannya dengan kosmetik sepertinya tak pernah, pakaiannya tak semahal dengan pakaian yang tersusun rapi di mall-mall, tubuhnya pun tak berbalut farmun yang semerbak memecah tabung penciuman kita, Namun sobat tahukah engkau siapa dia?, dia adalah sosok wanita yang membuat para bidadari cemburu padanya!

Mungkinkah? Yah para bidadari yang kita kenal dengan segala kecantikan yang tak dimiliki oleh penduduk bumi, bidadari yang tak terlukiskan kecantikannya meski dengan khayalan yang tak berujung. Mungkin engkau tak akan percaya dengan samua ini tapi yakinlah sosok itu benar-benar ada dia bukanlah rekaan dan sosok utopis dalam lakon sandiwara yang fiktif, tapi dia adalah wujud manusia biasa yang berjiwa dan beraga seperti dirimu, dia makan dan minum, tidur, sedih, menangis, terluka, bahagia, bahkan jatuh cinta namun ada satu yang membedakannya denganmu dia adalah wanita yang memuliakan dan mengakrabkan dirinya dengan Rabbnya dikala gulita menyelimuti bumi, bercengkrama dengan Rabbnya dengan kekuatan ibadah yang menghunjam dan mengakar kuat dalam hatinya yang lembut, menggadaikan obsesi masa mudanya dalam lingkaran suci taman-taman surga yang sulit kau terima, dia menghuni rumah Allah tuk menebar kebaikan pada kaumnya bagi siapa saja yang dahaga tuk mereguk manisnya iman.

Adakah kau masih tak percaya dengannya sobat? Sekali lagi kukatakan padamu dalam dirinya terpancar cahaya yang membuat rembulan dan bintang urung tuk bersinar walau hanya berkerlip sejenak bahkan kembang se-taman yang berwarna elok dibuatnya malu-malu tuk memekarkan mahkotanya yang indah. Sekiranya engkau tau apa yang ada dalam dadanya saya yakin tentu kecemburuanmu akan jauh lebih besar dibandingkan para bidadari yang bermata jelita itu.

Sobat dalam dirinya mengalun ketegaran iman tuk meruntuhkan kedigdayaan syaithon yang tak henti membisikkan kebohongan, Allah telah memuliakannya melebihi seorang ratu dalam istana yang megah, ia bukan lagi mawar yang tumbuh di pinggir setapak yang kumuh, indah tapi tak berharga. Tapi sekarang dia adalah bunga yang menghiasi keindahan taman surga yang tak terbayangkan. Semua itu karena hembusan hidayah yang menerpa wajahnya yang elok jelita. Dan bidadari pun cemburu padanya.

oleh Muhammad Akbar

Iklan

Akhlaq dalam Bertetangga

Islam adalah agama rahmah yang penuh kasih sayang. Dan hidup rukun dalam bertetangga adalah moral yang sangat ditekankan dalam Islam. Jika umat Islam memberikan perhatian dan menjalankan poin penting ini, niscaya akan tercipta kehidupan masyarakat yang tentram, aman dan nyaman.

Batasan Tetangga

Siapakah yang tergolong tetangga? Apa batasannya? Karena besarnya hak tetangga bagi seorang muslim dan adanya hukum-hukum yang terkait dengannya, para ulama pun membahas mengenai batasan tetangga. Para ulama khilaf dalam banyak pendapat mengenai hal ini. Sebagian mereka mengatakan tetangga adalah ‘orang-orang yang shalat subuh bersamamu’, sebagian lagi mengatakan ’40 rumah dari setiap sisi’, sebagian lagi mengatakan ’40 rumah disekitarmu, 10 rumah dari tiap sisi’ dan beberapa pendapat lainnya (lihat Fathul Baari, 10 / 367).

Namun pendapat-pendapat tersebut dibangun atas riwayat-riwayat yang lemah. Oleh karena itu Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani berkata: “Semua riwayat dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang berbicara mengenai batasan tetangga adalah lemah tidak ada yang shahih. Maka zhahirnya, pembatasan yang benar adalah sesuai ‘urf” (Silsilah Ahadits Dha’ifah, 1/446). Sebagaimana kaidah fiqhiyyah yang berbunyi al ‘urfu haddu maa lam yuhaddidu bihi asy syar’u (adat kebiasaan adalah pembatas bagi hal-hal yang tidak dibatasi oleh syariat). Sehingga, yang tergolong tetangga bagi kita adalah setiap orang yang menurut adat kebiasaan setempat dianggap sebagai tetangga kita.

Kedudukan Tetangga Bagi Seorang Muslim

Hak dan kedudukan tetangga bagi seorang muslim sangatlah besar dan mulia. Sampai-sampai sikap terhadap tetangga dijadikan sebagai indikasi keimanan. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia muliakan tetangganya” (HR. Bukhari 5589, Muslim 70)

Bahkan besar dan pentingnya kedudukan tetangga bagi seorang muslim sangatlah ditekankan, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَا زَالَ جِبْرِيْلُ يُوْصِيْنِيْ بِالْـجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

Jibril senantiasa menasehatiku tentang tetangga, hingga aku mengira bahwa tetangga itu akan mendapat bagian harta waris” (HR. Bukhari 6014, Muslim 2625)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan: “Bukan berarti dalam hadits ini Jibril mensyariatkan bagian harta waris untuk tetangga karena Jibril tidak memiliki hak dalam hal ini. Namun maknanya adalah beliau sampai mengira bahwa akan turun wahyu yang mensyariatkan tetangga mendapat bagian waris. Ini menunjukkan betapa ditekankannya wasiat Jibril tersebut kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam” (Syarh Riyadhis Shalihin, 3/177)

Anjuran Berbuat Baik Kepada Tetangga

Karena demikian penting dan besarnya kedudukan tetangga bagi seorang muslim, Islam pun memerintahkan ummatnya untuk berbuat baik terhadap tetangga. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) :

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang memiliki hubungan kerabat dan tetangga yang bukan kerabat, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (QS. An Nisa: 36)

Syaikh Abdurrahman As Sa’di menjelaskan ayat ini: “Tetangga yang lebih dekat tempatnya, lebih besar haknya. Maka sudah semestinya seseorang mempererat hubungannya terhadap tetangganya, dengan memberinya sebab-sebab hidayah, dengan sedekah, dakwah, lemah-lembut dalam perkataan dan perbuatan serta tidak memberikan gangguan baik berupa perkataan dan perbuatan” (Tafsir As Sa’di, 1/177)

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

خَيْرُ اْلأَصْحَابِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِهِ ، وَخَيْرُ الْـجِيْرَانِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِـجَارِهِ

Sahabat yang paling baik di sisi Allah adalah yang paling baik sikapnya terhadap sahabatnya. Tetangga yang paling baik di sisi Allah adalah yang paling baik sikapnya terhadap tetangganya” (HR. At Tirmidzi 1944, Abu Daud 9/156, dinilai shahih oleh Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 103)

Maka jelas sekali bahwa berbuat baik terhadap tetangga adalah akhlak yang sangat mulia dan sangat ditekankan penerapannya, karena diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Ancaman Atas Sikap Buruk Kepada Tetangga

Disamping anjuran, syariat Islam juga mengabakarkan kepada kita ancaman terhadap orang yang enggan dan lalai dalam berbuat baik terhadap tetangga. Bahkan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menafikan keimanan dari orang yang lisannya kerap menyakiti tetangga. Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam bersabdaL

وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ ، وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ ، وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ . قِيْلَ: وَ مَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: الَّذِيْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

Demi Allah, tidak beriman, tidak beriman, tidak beriman. Ada yang bertanya: ‘Siapa itu wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab: ‘Orang yang tetangganya tidak aman dari bawa’iq-nya (kejahatannya)‘” (HR. Bukhari 6016, Muslim 46)

Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan: “Bawa’iq maksudnya culas, khianat, zhalim dan jahat. Barangsiapa yang tetangganya tidak aman dari sifat itu, maka ia bukanlah seorang mukmin. Jika itu juga dilakukan dalam perbuatan, maka lebih parah lagi. Hadits ini juga dalil larangan menjahati tetangga, baik dengan perkataan atau perbuatan. Dalam bentuk perkataan, yaitu tetangga mendengar hal-hal yang membuatnya terganggu dan resah”. Beliau juga berkata: ”Jadi, haram hukumnya mengganggu tetangga dengan segala bentuk gangguan. Jika seseorang melakukannya, maka ia bukan seorang mukmin, dalam artian ia tidak memiliki sifat sebagaimana sifat orang mukmin dalam masalah ini” (Syarh Riyadhis Shalihin, 3/178)

Bahkan mengganggu tetangga termasuk dosa besar karena pelakunya diancam dengan neraka. Ada seorang sahabat berkata:

يا رسول الله! إن فلانة تصلي الليل وتصوم النهار، وفي لسانها شيء تؤذي جيرانها. قال: لا خير فيها، هي في النار

Wahai Rasulullah, si Fulanah sering shalat malam dan puasa. Namun lisannya pernah menyakiti tetangganya. Rasulullah bersabda: ‘Tidak ada kebaikan padanya, ia di neraka’” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrak 7385, dinilai shahih oleh Al Albani dalam Shahih Adabil Mufrad 88)

Sebagaimana Imam Adz Dzahabi memasukan poin ‘mengganggu tetangga’ dalam kitabnya Al Kaba’ir (dosa-dosa besar). Al Mula Ali Al Qari menjelaskan mengapa wanita tersebut dikatakan masuk neraka: “Disebabkan ia mengamalkan amalan sunnah yang boleh ditinggalkan, namun ia malah memberikan gangguan yang hukumnya haram dalam Islam” (Mirqatul Mafatih, 8/3126).

Bentuk-Bentuk Perbuatan Baik Kepada Tetangga

Semua bentuk akhlak yang baik adalah sikap yang selayaknya diberikan kepada tetangga kita. Diantaranya adalah bersedekah kepada tetangga jika memang membutuhkan. Bahkan anjuran bersedekah kepada tetangga ini sangat ditekankan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam :

لَيْسَ الْـمُؤْمِنُ الَّذيْ يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إلَى جَنْبِهِ

Bukan mukmin, orang yang kenyang perutnya sedang tetangga sebelahnya kelaparan” (HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubra 18108, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 149)

Beliau juga bersabda:

إِذَا طَبَخْتَ مَرَقًا فَأَكْثِرْ مَاءَهُ ، ثُمَّ انْظُرْ أَهْلَ بَيْتٍ مِنْ جِيْرَانِكَ فَأَصِبْهُمْ مِنْهَا بِمَعْرُوْفٍ

Jika engkau memasak sayur, perbanyaklah kuahnya. Lalu lihatlah keluarga tetanggamu, berikanlah sebagiannya kepada mereka dengan cara yang baik” (HR. Muslim 4766)

Dan juga segala bentuk akhlak yang baik lainnya, seperti memberi salam, menjenguknya ketika sakit, membantu kesulitannya, berkata lemah-lembut, bermuka cerah di depannya, menasehatinya dalam kebenaran, dan sebagainya.

Jika Bertetangga Dengan Non-Muslim

Dalam firman Allah Ta’ala pada surat An Nisa ayat 36 di atas, tentang anjuran berbuat baik pada tetangga, disebutkan dua jenis tetangga. Yaitu al jaar dzul qurbaa (tetangga dekat) dan al jaar al junub (tetangga jauh). Ibnu Katsir menjelaskan tafsir dua jenis tetangga ini: “Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa al jaar dzul qurbaa adalah tetangga yang masih ada hubungan kekerabatan dan al jaar al junub adalah tetangga yang tidak memiliki hubungan kekerabatan”. Beliau juga menjelaskan: “Dan Abu Ishaq meriwayatkan dari Nauf Al Bikali bahwa al jaar dzul qurbaa adalah muslim dan al jaar al junub adalah Yahudi dan Nasrani” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/298).

Anjuran berbuat baik kepada tetangga berlaku secara umum kepada setiap orang yang disebut tetangga, bagaimana pun keadaannya. Ketika menjelaskan hadits

مَا زَالَ جِبْرِيْلُ يُوْصِيْنِيْ بِالْـجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

Jibril senantiasa menasehatiku tentang tetangga, hingga aku mengira bahwa tetangga itu akan mendapat bagian harta waris

Al ‘Aini menuturkan: “Kata al jaar (tetangga) di sini mencakup muslim, kafir, ahli ibadah, orang fasiq, orang jujur, orang jahat, orang pendatang, orang asli pribumi, orang yang memberi manfaaat, orang yang suka mengganggu, karib kerabat, ajnabi, baik yang dekat rumahnya atau agak jauh” (Umdatul Qaari, 22/108)

Demikianlah yang dilakukan para salafus shalih. Dikisahkan dari Abdullah bin ‘Amr Al Ash:

أَنَّهُ ذُبِحَتْ لَهُ شَاةٌ، فَجَعَلَ يقول لغلامه: أهديت لجارنا اليهوي؟ أَهْدَيْتَ لِجَارِنَا الْيَهُودِيِّ؟ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ” مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بالجارحتى ظننت أنه سيورثه

“Beliau menyembelih seekor kambing. Beliau lalu berkata kepada seorang pemuda: ‘akan aku hadiahkan sebagian untuk tetangga kita yang orang Yahudi’. Pemuda tadi berkata: ‘Hah? Engkau hadiahkan kepada tetangga kita orang Yahudi?’. Aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda ‘Jibril senantiasa menasehatiku tentang tetangga, hingga aku mengira bahwa tetangga itu akan mendapat bagian harta waris‘” (HR. Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrad 78/105, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Adabil Mufrad)

Oleh karena itu para ulama menjelaskan bahwa tetangga itu ada tiga macam:

  • Tetangga muslim yang memiliki hubungan kerabat. Maka ia memiliki 3 hak, yaitu: hak tetangga, hak kekerabatan, dan hak sesama muslim.
  • Tetangga muslim yang tidak memiliki hubungan kekerabatan. Maka ia memiliki 2 hak, yaitu: hak tetangga, dan hak sesama muslim.
  • Tetangga non-muslim. Maka ia hanya memiliki satu hak, yaitu hak tetangga.

Dengan demikian berbuat baik kepada tetangga ada tingkatannya. Semakin besar haknya, semakin besar tuntutan agama terhadap kita untuk berbuat baik kepadanya. Di sisi lain, walaupun tetangga kita non-muslim, ia tetap memiliki satu hak yaitu hak tetangga. Jika hak tersebut dilanggar, maka terjatuh pada perbuatan zhalim dan dosa. Sehingga sebagai muslim kita dituntut juga untuk berbuat baik pada tetangga non-muslim sebatas memenuhi haknya sebagai tetangga tanpa menunjukkan loyalitas kepadanya, agamanya dan kekufuran yang ia anut. Semoga dengan akhlak mulia yang kita tunjukkan tersebut menjadi jalan hidayah baginya untuk memeluk Islam.

Dari artikel Akhlak Islami Dalam Bertetangga — Muslim.Or.Id

sumber gambar : http://hiasanrumah.wordpress.com/

Keshalihan Setiap Orang berbeda-beda

Keshalihan itu banyak ragamnya. Ia seperti keimanan yang oleh Rasulullah r  dikatakan mempunyai banyak cabang . Di antara cabang – cabang tersebut, yang tertinggi adalah kalimatLaa ilaaha illallah. Dan yang terendah adalah menyingkirkan onak duri dari jalanan. Sebagaimana hadits Rasulullah r, artinya : “Iman itu lebih dari enam puluh cabang. Cabang yang paling utama adalah ucapan, ‘Laa ilaaha illallah’ dan cabang yang paling rendah yaitu menyingkirkan kotoran dari jalan“. (HR. Muslim).

Keanekarangaman keshalihan itu tentu akan sulit untuk kita amalkan seluruhnya. Sebab kita serba terbatas.

Sepanjang sejarah manusia teramat sangat jarang kita temukan sosok yang dapat merangkum sekian keshalihan itu. Selain Rasulullah r  tentu saja , kita mungkin mengenal sosok Abu Bakar t, sahabat Rasulullah r yang amat dicintainya.  Beliau r pernah bersabda, artinya : “Andaikata aku akan mengangkat seorang khalil (kekasih) dari umatku niscaya aku angkat Abu Bakar, tetapi cukuplah sebagai saudara dan sahabatku. Sungguh Alloh telah mengangkat sahabat kalian ini (maksudnya diri beliau sendiri) menjadi khalil-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah t bahwa Rasulullah r pernah bertanya kepada para sahabatnya di suatui pagi, “Siapakah diantara kalian yang berpuasa pada hari ini?” Abu Bakar menjawab ”Saya!” Rasul r bertanya lagi ”Siapakah diantara kalian yang mengiringi jenazah pada hari ini?” Abu Bakar t menjawab ”Saya!”. “Siapakah yang memberi makan fakir miskin pada hari ini?” tanya Rasul r lagi. “Saya!” jawab Abu Bakar. “Siapakah diantara kalian yang menjenguk orang sakit pada hari ini?” tanya Rasul r pula. “Saya!” jawab Abu Bakar. Kemudian Rasulullah r  bersabda : “Tidaklah terkumpul perkara tersebut pada seorang hamba kecuali pasti masuk surga.” (HR. Muslim)

Maka pastaslah  Rasulullah r pernah bersabda : “Sesungguhnya yang paling besar jasanya padaku dalam persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar ” (HR. Bukhari dan Muslim).

Demikianlah. Sampai – sampai ‘Umar ibn Al-khathab t pun mengakui bahwa, “Sungguh aku tidak akan mungkin menyamai pria yang satu ini, selamanya”.

Ah, tapi jangan pernah bersedih Saudaraku. Memang kita mungkin tidak sanggup seperti dia t. Tetapi, satu hal yang patut kita renungkan, keshalihan itu ibarat rezki dari Allah I . Allah I lah yang mengaruniakan hidayah kepada kita untuk mengerjakan sebuah keshalihan, sekecil apapun itu.

Maka sebagaimana rezki, ada orang yang mendapatkan keshalihan berlimpah namun ada yang biasa – biasa saja. Ada orang yang dibukakan pintu rezkinya dari arah perdagangan, namun ada pula yang dibukakan dari pintu yang lain. Tentu saja ketika Anda hanya mendapatkan limpahan rezeki yang tak seberapa, anda tidak boleh berhenti untuk bekerja keras. Seperti itu pulalah keshalihan.

Sepucuk Surat dari Sang Imam

Apa yang terpaparkan di atas terilhami oleh sepucuk surat yang pernah dikirimkan Imam Malikrahimahullah kepada salah seorang sahabatnya yang bernama ‘Abdullah Al ‘Umary.

Kebetulan ‘Abdullah Al ‘Umary ini adalah seorang ahli ibadah yang bermukim di Mekkah. Ia tidak mempunyai aktifitas lain selain ibadah  seraya beruzlah saja. Dia mungkin berpikir bahwa itulah ibadah  yang paling disukai Allah Ta’ala.

Maka ia pun menulis sepucuk surat yang kemudian ia tujukan kepada Imam Malik ibn Anasrahimahullah di Madinah. Isinya tentu saja adalah ajakan kepada Imam Malik rahimahullah agar meninggalkan Madinah dan mengikuti jejaknya beruzlah di Mekkah agar lebih berkonsentrasi menjalankan ibadah. Ia meminta sang Imam untuk tidak lagi mengajar dan menyampaikan ilmu yang ia miliki, untuk kemudian memfokuskan diri beribadah di sisi ka’bah masjidil haram yang mulia itu.

Ya, jelas saja, sang sahabat mengajaknya karena keutamaan masjidil haram yang begitu besar besar di matanya. Bukankah Rasulullah r pernah bersabda, artinya : “Shalat di Masjidku lebih utama 1000 kali shalat dibandingkan shalat di masjid yang lain, kecuali Masjidil Haram. Dan shalat di Masjidil Haram lebih utama 100.000 kali lipat dibandingkan shalat di masjid yang lain”. (HR. Ibnu Majah 1406, dan dishahihkan oleh Al-Albani).

Dan ketika Imam Malik menerima surat itu, segera saja beliau menyiapkan balasannya. Dan surat balasan itu berbunyi seperti ini…

“…sesungguhnya Allah I telah membagi amalan (keshalihan) itu sebagaimana Ia I  telah membagi rezki. Terkadang ada orang yang dibukakan jalannya untuk lebih banyak mengerjakan shalat namun tidak dibukakan untuknya jalan untuk lebih banyak berpuasa.

Ada pula yang lain yang mungkin dimudahkan untuk bersedekah, namun tidak dibukakan jalan untuk banyak berpuasa. Mungkin ada juga yang lain yang di mudahkan untuk berjihad (namun tidak dibukakan untuk yang lainnya).

Adapun menyebarkan ilmu itu sendiri adalah salah satu amal keshalihan. Dan saya sudah merasa ridha terhadap jalan yang dibukakan (Allah) untukku ini. Dan saya yakin bahwa apa yang saat ini aku kerjakan tidak lebih buruk dari apa yang tengah engkau kerjakan. Namun saya tentu berharap bahwa kita berdua selalu berada dalam kebaikan dan Keshalihan…” (Siyar A’lam An Nubala ‘8/15).

Dan surat singkat ini tentu saja ditujukan untuk kita pula. Untuk saya dan Anda para pembaca yang budiman.

Maka, saatnya untuk mensyukuri segala kemudahan yang dikaruniakan oleh Allah I kepada kita dalam hal keshalihan. Ketika Allah I memudahkan kita untuk puasa, maka syukurilah dengan optimalisasi puasa. Ketika Allah I  menganugerahkan kemudahan untuk banyak mengerjakan shalat, sujud dan rukuk, maka syukurilah dengan optimalisasi shalat di setiap kesempatan. Begitu pula dengan kemudahan akan keshalihan – keshalihan lainnya.

Teruslah beramal shalih… Semoga Allah senantiasa menetapkan kita selalu di bawah bimbingan taufiqNya. Wallahu A’lam.

[Tulisan ini banyak diinspirasi dari Buku “Perindu – Perindu Malam dan Rindu yang Berujung Surga”, Abul Miqdad Al-Madany].

sumber : al-munir.com

Bahaya Penyakit Hasad

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

“Hati-hati kalian dari sifat hasad, karena hasad itu memakan kebaikan sebagaimana api melalap kayu bakar.”

Sifat hasad itu adalah sifat yang jelek dan sebenarnya menyakiti dan menyiksa pemiliknya sebelum ia menyakiti orang lain. Maka sepantasnya seorang mukmin dan mukminah berhati-hati dari hasad, dengan memohon pertolongan dan pemaafan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seorang mukmin harus tunduk berserah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala -demikian pula seorang mukminah- dengan memohon dan berharap kepada-Nya agar menghilangkan hasad tersebut dari dalam hatinya, sehingga tidak tersisa dan tidak tertinggal sedikitpun. Karena itu, kapanpun anda merasa ada hasad menjalar di hati anda, hendaklah anda paksa jiwa anda untuk menyembunyikannya dalam hati tanpa menyakiti orang yang didengki, baik dengan ucapan ataupun perbuatan. Wallahul musta’an.”

bila anda merasa ada hasad yang timbul maka paksa jiwa anda untuk melawannya. Sembunyikan hasad tersebut, jangan melakukan suatu perbuatan yang menyelisihi syariat. Jangan anda sakiti orang yang anda hasadi, baik dengan ucapan ataupun perbuatan. Mohonlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, agar menghilangkan perasaan itu dari hati anda niscaya hal itu tidaklah memudaratkan anda. Karena jika (dalam hati) seseorang tumbuh hasad namun ia tidak melakukan apapun sebagai pelampiasan hasadnya itu maka hasad itu tidaklah memudaratkannya. Selama ia tidak melakukan tindakan, tidak menyakiti orang yang didengkinya, tidak berupaya menghilangkan nikmat dari orang yang didengkinya, dan tidak mengucapkan kata-kata yang menjatuhkan kehormatannya. Hasad/rasa dengki itu hanya disimpan dalam dadanya. Namun tentu saja orang seperti ini harus berhati-hati, jangan sampai ia mengucapkan kata-kata atau melakukan perbuatan/tindakan yang memudaratkan orang yang didengkinya.

Iri, dengki atau hasad –istilah yang hampir sama- berarti menginginkan hilangnya nikmat dari orang lain. Asal sekedar benci orang lain mendapatkan nikmat itu sudah dinamakan hasad, itulah iri. Kata Ibnu Taimiyah, “Hasad adalah sekedar benci dan tidak suka terhadap kebaikan yang ada pada orang lain yang ia lihat.” Hasad seperti inilah yang tercela. Adapun ingin agar semisal dengan orang lain, namun tidak menginginkan nikmat orang lain hilang, maka ini tidak mengapa. Hasad model kedua ini disebut oleh para ulama dengan ghibthoh. Yang tercela adalah hasad model pertama tadi. Bagaimanakah bentuk ghibtoh atau iri yang dibolehkan? Simak dalam tulisan sederhana berikut ini.

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ ، فَهْوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

Tidak boleh hasad (ghibtoh) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.”

dikutip dari : rindusunnah.com dan muslim.or.id

image source : rudhidayat.wordpress.com